Acceptance Curahan Hati ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mindfulness Tulisan Ribka ImaRi (Owner) Writing For Healing

Acceptance: Menerima Rasa Tidak Terima

Oleh: Ribka ImaRi (Mentor Mengasuh Inner Child)

Sokaraja, 16 Agustus 2021

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s!

Apa kabar perasaan hari ini?

Sumber foto: google

Apa yang terlintas dipikiran saat melihat meme di atas?

“Aku tuh enggak bisa diginiin! Aku benar-benar nggak terima! Pokoknya enggak terima!”

Ada banyak jiwa yang sering mempunyai perasaan tidak terima atas keadaan yang berujung penolakan keadaan, berkecamuk dalam pikiran justru akan membuat tubuh semakin tersiksa. Misal, tidak terima rasa sakit hati karena dibentak atau diomongin atau difitnah bikin kepala jadi sakit memikirkan keadaan, “Teganya mereka padaku!”

Lalu sensasi sakit pikiran menjalar ke bagian tubuh lain. Leher tegang, pundak pegal, dada sesak, punggung seperti tertindih, ulu hati mengeras, bikin enggak nafsu makan, malas makan, malas ngapa-ngapain, mengambek berhari-hari.

“Aku sakit sajalah, biar diperhatikan. Biar enggak dibentak-bentak lagi. Biar nggak disakiti lagi. Aku mati sajalah biar mereka tahu rasanya kehilangan aku.

Tubuh semakin drop ketika perasaan semakin down. Ini yang sering disebut sakit pikiran. Tubuh berperang dengan emosi diri sendiri. Padahal orang yang menyakiti kita dalam keadaan enak makan dan enak tidur.

Aku pernah banget mengalami itu semua berpuluh tahun sebelum tahu ilmu ACCEPTANCE. Jadi sebenarnya yang rugi ya, diriku sendiri. Aku protes atas perlakuan orang lain dengan zalim pada diriku sendiri, tetapi malah menyakiti diri sendiri.

Memang pasti sangat sulit untuk ACCEPTANCE (MENERIMA) rasa tidak terima dan keadaan yang menyesakkan. Akan tetapi aku berjuang semangat untuk diri sendiri. Meski tak ada seorang pun yang mengerti rasanya TIDAK TERIMA ATAS PERKATAAN DAN PERLAKUAN ORANG YANG MENYAKITI HATI.

Namun, dengan terus berjuang, setidaknya pelan-pelan bisa stabil perasaan yang sedang emosi. Meski masalahnya belum tentu selesai saat itu juga. Akan tetapi, percayalah … saat perasaan bisa stabil, otak akan bisa diajak bekerjasama mencari solusi terbaik untuk menghadapi masalah bahkan menyelesaikannya hingga tuntas. Setidaknya sadar untuk tetap makan demi kebaikan dan kesehatan raga diri sendiri.

Kekuatan pikiran, “Sehat … sehat … sehat … aku mau sehat demi diriku sendiri. Aku mau makan untuk diriku sendiri. Aku tidak mau menyakiti diriku sendiri.

Sumber foto: edit by canva

Karena sebenarnya,

“SAMPAI KAPANPUN PENERIMAAN TAK AKAN MENGUBAH KEADAAN ATAU MENGUBAH ORANG LAIN JADI MENGERTI, TETAPI PENERIMAAN MEMBUAT BEBAN PERASAAN YANG BERAT ITU PERLAHAN MENJADI RINGAN (ACCEPTANCE).”

Berjuang MENERIMA RASA TIDAK TERIMA. Ini memang sangat berat. Tapi dengan PENERIMAAN akan sangat membantu meringankan beban menghadapi masalah.

Jadi rasa tidak terimanya yang diusahakan diterima ya. Fokus pada penerimaan rasa tidak terima ini.

Nanti berbagai macam perasaan tidak terimanya akan berangsur-angsur membaik.

Perasan tidak terima saat berhadapan dengan masalah=PENOLAKAN menghadapi masalah. Sebenarnya ini yang membuat proses penerimaan menjadi lebih lama.

Yuk, belajar teknik ACCEPTANCE di kelas Mengasuh Inner Child

Tanggal 22-29 Agustus 2021

Hubungi Mentor Ribka via whatsapp

Sumber foto: edit by canva

Seperti inilah perumpamaan PENERIMAAN vs PENOLAKAN,

Saat diri ini mau disuntik obat oleh paramedis, tetapi menolak dan meronta terus, maka proses suntiknya akan lebih lama, harus dipegangi dulu, otomatis proses penyembuhannya (memasukan obat penyembuh via suntikan) akan lebih lama pula.

Namun penerimaan dengan tarik napas panjang, hembuskan panjang lalu terima saja dulu proses yang menyakitkan saat disuntik. Terima obatnya masuk. Dan biarkan Tuhan bekerja menyembuhkan melalui obat yang sudah disuntikkan oleh paramedis.

Jadi saat ini, berjuanglah terus untuk MENERIMA RASA TIDAK TERIMA.

Menerima rasa tidak terima diomongin orang di belakang.

Menerima rasa tidak terima dibentak orangtua atau suami atau anak.

Menerima rasa tidak terima dizalimi mertua.

Menerima rasa tidak terima putus dengan mantan pacar.

Menerima rasa tidak terima mantan pacar sudah punya pacar baru.

Menerima rasa tidak terima diri ini sakit-sakitan.

Menerima rasa tidak terima tidak bisa istirahat sekejap mata.

Menerima rasa tidak terima diri ini jadi ibu dan istri yang gagal.

Menerima rasa tidak terima suami berlaku buruk terus menerus sepanjang pernikahan.

Menerima rasa tidak terima anggota keluarga sakit bahkan positif covid-19.

Menerima rasa tidak terima orangtua abai malah marah-marah terus.

Menerima rasa tidak terima mertua jahat semua.

Menerima rasa tidak terima saudara kandung berlaku curang.

Menerima rasa tidak terima ipar semua iri dengki.

Menerima rasa tidak terima tetangga semua suka ngomongin di belakang.

Menerima rasa tidak terima anak susah makan, tidur, mandi.

Menerima rasa tidak terima keadaan ekonomi terpuruk.

Menerima rasa tidak terima hidup yang terpuruk terus.

Menerima rasa tidak terima saat mendapati suami sebagai sandaran hati tapi tidak bisa diharapkan.

Menerima rasa tidak terima sahabat menjauh.

Menerima rasa tidak terima akhirnya bercerai dengan suami yang tidak mau berjuang lagi.

Menerima rasa tidak terima tidak punya siapa-siapa yang bisa diharapkan selain Tuhan saja.

Masih banyak kalimat terima rasa tidak terima lainnya yang aku ambil dari kasusku sendiri dan juga banyak mentee yang kumentoring. Bisa ditambahkan sendiri dengan teknik self talk (bicara pada diri sendiri) agar bisa menerima rasa tidak terima (acceptance).

Sumber foto: edit by canva

Pada akhirnya, “AKU TERIMA SEMUA SATU PER SATU MENJADI BAGIAN DARI PERJALANAN HIDUPKU agar aku mampu berproses menjadi PRIBADI YANG TANGGUH. Tidak berharap pada siapapun melainkan berharap hanya pada Tuhan Sang Penolong.”

Terima … terima … terima … terima saja semua satu per satu supaya lebih ringan melangkah. Karena tanpa beban emosi penolakan dalam diri.

Peluk semangat ibu hebat yang sudah bertahan sampai detik ini ibarat tak pernah lelah berjuang sampai titik darah penghabisan. KALIAN LUAR BIASA hebat semua!

Jika masih belum plong, masih terseok-seok berproses menerima, bukan berarti belum berhasil. Namun perlu latihan terus untuk lebih SKST.

Semangat

Konsisten

Sabar

Telaten

Salam sehat jiwa raga!

Sokaraja, 30 November 2020

Diperbaharui 16 Agustus 2021

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 38 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 27 antologi sudah terbit, 18 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan