Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Parenting Tema Bebas Kategori Segar Tips dan Trik Mengasuh Anak Writing Challenge Rumedia (WCR)

8 Cara Mendidik Anak Akur Berbagi Tanpa Rebut dan Ribut

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat Pagi Sahabat ImaRi’s!
Selalu semangat jalani hari ya! Meskipun weekend begini kita semua tetap berada di rumah saja karena masih pandemi corona. Iya, kami keluarga ImaRi’s juga tetap memilih tidak ke mana-mana dulu apalagi piknik di kala weekend seperti hari ini.

Semenjak Gubernur Jateng menyeru untuk stay at home pada tangal 15 Maret 2020, paling hanya aku atau suami yang sesekali ke luar rumah untuk membeli kebutuhan. Tyaga dan Jehan masih patuh diminta untuk di dalam rumah saja.

Jadi hampir dua bulan lamanya asyik melihat suami work from home dan anak school from home. Seru sih, bisa selalu kumpul bersama keluarga kecil di rumah.

Selalu asyik? Oooh, tentu tidak! Kadang-kadang bosan lihat kedua anak kalau lagi ribut dan rebut. Hehe. Apalagi bagi seorang ibu rumah tangga biasa sepertiku yang kerjanya rutin itu-itu saja. Ketambahan melihat dua anak, kakak beradik bersinggungan terus. Ada kalanya akur … nah kalau ini asyik. Ada kalanya ribut … nah ini yang bikin kepala emak pening. Hahaha

Padahal ributnya itu hanya karena hal sepele yang itu-itu saja. Semisal rebutan atau susah dibilangin. Ssssstt! Pernah bikin kepala bundanya jadi bertanduk. Hahaha. Habisnya … hanya gara-gara rebutan lego jadi memancing emosi sekeluarga. Fiuh!

Semua orangtua pasti mendambakan memiliki anak-anak yang akur berbagi dengan saudara sekandung. Baik dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan di dalam rumah maupun terbawa sampai ke lingkungan di luar rumah. Kemudian anak menjadi terbiasa berbagi dengan saudara sepupu, teman bermain atau teman sekolah. Dengan harapan menjadi terbiasa akur berbagi sedari kecil. Lalu dewasa kelak di lingkungan kerja atau pun bertetangga serta dalam berbagai keadaan lingkungan hidupnya nanti, tetap bisa akur berbagi.

Berbekal pengalamanku pribadi dan suami yang pernah ada momen tidak akur dengan saudara sekandung bahkan hingga kami menua sekarang, membuat kami berjuang mengasuh dan mendidik Tyaga dan Jehan agar bisa akur sejak kecil hingga dewasa dan menua kelak.

Tyaganara, anak lelakiku yang kini sudah berusia 8,2 tahun dan Jehan, anak perempuanku yang 5,9 tahun sebenarnya dua bersaudara yang terbilang akur menurut penilaian kami orangtuanya. Bahkan ada banyak orang melihatnya keseharian Tyaga dan Jehan pasti berkomentar dan bertanya, “Akur ya. Nggak pernah berantem?”

Berantem, pasti lah ada. Namanya juga bersaudara pasti bersinggungan. Memang ada banyak aral melintang dalam perjalanan mengasuh dan mendidik keduanya. Dimulai saat Tyaga berusia 21 bulan dan Jehan janin dalam kandungan pada akhir tahun 2013. Proses berbagi yang up and down selama hampir 6,5 tahun lamanya.

Terutama aku sebagai ibu penyandang depresi dan bipolar. Aku yang pernah mengalami depresi pengasuhan dulu sangat mudah mood swing, dari yang super sabar tetapi bisa tiba-tiba meledak marah ketika menghadapi Tyaga dan Jehan di fase rebutan.

Namun, alhamdulillah kini membuahkan hasil yang melegakan kami sebagai orangtuanya. Mereka saling menyayangi, akur berbagi dan peduli sesama saudara juga kepada orang lain.

Atas keberhasilan ini, aku ingin berbagi 8 cara penting yang sebaiknya tak luput dari perhatian orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya sejak dini sebagai pondasi pengendalian emosi agar bisa akur berbagi tanpa ribut dan rebut. Terlebuh menjelang Hari Raya Idul Fitri yang biasanya hampir seluruh keluarga besar berkumpul bersama. Tak dapat terelakkan lagi akan ada momen bermain bersama.

Sahabat ImaRi’s, beginilah cara kami mengasuh dan mendidik Tyaga dan Jehan seperti yang terangkum di bawah ini:

1. Orangtua terlebih dahulu memberi contoh akur

Akur dengan pasangannya (ayah-bunda) dan dengan orangtua masing-masing (kakek-nenek). Meskipun tetap saja fase keduanya saling ribut tetapi alhamdulillah masih dalam taraf yang normal.

Memberi contoh saling bicara sopan, lembut, berbagi, penuh kasih sayang dan melayani sesama suami istri. Pada awalnya, ini sangat sulit. Apalagi aku dan suami adalah produk pola asuh lama yang dibesarkan dalam kekerasan dalam rumah tangga. Sedari kecil aku terbiasa mendengar, merasa dan mengalami kekerasan verbal setiap saat oleh bapakku. Sementara suamiku sebaliknya. Ia mengalami kekerasan fisik dari bapaknya almarhum. Hal ini pernah membuat kami pernah kesulitan mengatur emosi kami masing-masing. Namun, dengan tekad kuat memperbaiki keturunan, kami bersyukur Allah mengizinkan kami bisa berjuang menjadi akur.

Dengan belajar Mindfulness Parenting sejak mengenalnya pada Agustus 2016 hingga saat ini. Sebuah ilmu pengasuhan dengan kesadaran untuk sabar. Jadi kami berjuang sabar di depan anak. Sabar menghadapi pasangan agar tetap akur dalam memberi pengertian kepada Tyaga dan Jehan untuk belajar akur melalui contoh nyata akur dari orangtuanya.

2. Sejak si Adik positif tumbuh di rahim bunda hingga lahir ke dunia, selalu dahulukan si Kakak sebagai anak pertama.

Sejak melihat hasil testpack kehamilan anak kedua, aku selalu mengatakan (sounding) pada Tyaga, “Meski Adik Jehan sudah lahir nanti, Mas Tyaga tetap yang pertama di hati Ayah Bunda. Kasih sayang Ayah dan Bunda tidak akan pernah berubah dan berkurang sampai kapan pun. Tetapi Ayah dan Bunda sayang tak ada bedanya kepada Mas dan Dede. Semua sesuai kebutuhan Mas dan Dede. Jadi Ayah dan bunda pamit ya Mas jika harus mendahulukan Dede Jehan. Bukan berarti nyuekin (mengabaikan) Mas, tapi Dede Jehan lagi butuh Ayah atau Bunda lebih dulu.”

Sounding ini terus menerus ditancapkan sejak Desember 2013 sewaktu test pack menunjukkan tanda garis dua tanda positif hamil. Saat itu Tyaga masih berusia 21 bulan tetapi aku berjuang mengajaknya bicara seperti di atas. Dengan harapan, saat waktunya tiba punya adik, Tyaga sudah bisa benar-benar mengerti.

3. Selalu dan selalu tancapkan kalimat, “SAYANG ADIK YA NAK. SAYANG DEDE JEHAN SATU-SATUNYA ADIKNYA MAS.

SELALU JAGA ADIK YA SAYANG. AYAH DAN BUNDA PERCAYA MAS PASTI SAYANG BANGET SAMA ADIK. DEDE JUGA SAYANG SAMA MAS YA.”

Sounding ini aku lakukan saat Tyaga tidur, jadi bisa nancap di otak bawah sadar Tyaga. Sehingga saat dalam kondisi sadar Tyaga mulai aneh-aneh (usil) memperlakukan adiknya, ayah dan bunda tinggal mengulangi pesan di atas.

Meskipun pasti pernah ada insiden memancing emosi, alhamdulillah pelan-pelan kami bisa bertumbuh dan berkembang mengendalikan emosi bersama. Sehingga bisa tetap akur sampai sekarang.

4. Selalu libatkan si kakak dalam mengurus, mengajarkan, mendidik dan mengasuh adiknya sejak dalam kandungan.

Misal, “Mas, tolong ajak ngobrol Dede, ya. Tanya ke Dede, ‘Dede lagi apa? Main sama-sama yuk, De!’ selalu yang baik sama Dede sampai Dede lahir dan besar nanti ya, Mas.”

“Mas ajak Dede makan, yuk! Tolong bilang ke Dede, ‘De, kita makan yuk. Makan nasi pakai lauk lele sama sayur sop. Nanti Bunda suapin Mas. Dede makan lewat plasenta Bunda ya’ Mas tiru apa yang Bunda bilang barusan ya. Ajak Dede makan bareng. Dede pasti senang.”

Setelah Dede lahir sampai besar, “Mas, tolong ambilkan pempes (popok sekali pakai) Dede ya atau Mas, tolong ajak Adik cuci kaki di kamar mandi ya. Tolong contohin ya, Mas.”

Rasa berharga pada diri si Kakak membuatnya sebagai idola bahkan pahlawan bagi adiknya menjadikan Tyaga termotivasi untuk terus berbuat baik pada adiknya. Alhamdulillah sampai Tyaga besar selalu ingat berbagi makanan dengan Jehan. Meskipun pernah ada fase keduanya enggan berbagi, tetapi alhamdulillah setelah diberi pengertian ulang dengan sounding yang sama sejak keduanya kecil, jadi lebih cepat sadar untuk segera berbagi.

5. Sebaiknya tidak pernah menyuruh si Kakak untuk mengalah pada Adik apalagi memaksa si Kakak untuk memberikan mainan atau miliknya ke Adik dengan alasan “Mas kan sudah besar, mengalah ya sama Dede!”

Namun, ganti dengan kalimat sounding, “Mas anak baik… Berbagi ya sama Dede. Main bersama ya Nak… Sayang Adik ya Mas … Dede sabar tunggu ya sampai Mas rela kasih pinjam.”

6. Sejak si adik masih dalam kandungan, ajarkan dan sounding selalu supaya si kakak dan si adik selalu terbiasa saling ijin meminjam barang masing-masing.

Misal, saat bunda mempersiapkan baju-baju dan perlengkapan bayi yang tadinya punya Mas Tyaga untuk menyambut kelahiran Dede Jehan, sambil elus Dede Jehan di perut bunda sebagai tanda ajakan mengobrol, katakan kepada si adik “De, kita bilang pinjam yuk ke Mas. De, bilang pinjem ke Mas yuk! Pinjem ya, Mas. Boleh ya, Mas.
Mas, ini boleh ya buat dipakai Dede? Terimakasih Mas sudah bolehin Dede pakai kain bedong punya Mas”. Begitu seterusnya sampai adik lahir dan membesar selalu biasakan bilang pinjam. Pun sebaliknya, si Kakak juga harus selalu bilang pinjem saat ingin menggunakan barang milik si Adik.

7. Ajarkan si Kakak dan si Adik untuk tidak atau stop mengambil barang siapa pun dengan cara merebut.

Namun, sabar tunggu sampai si Kakak atau si Adik rela memberikan barang miliknya untuk dipinjamkan. Hal ini sekaligus mengajarkan arti sabar kepada kedua belah pihak.

Sounding, “Tolong selalu bilang pinjam. Pinjam ya, Mas. Pinjam ya, Dek. Tidak pernah rebut kalau belum diizinkan. Sabar tunggu sampai diberikan ya. Anak hebat, soleh, soleha pasti bisa sabar tunggu sampai diizinkan. Mas yang baik sama adik ya. Dede juga yang hormat sama Mas ya. Sabar tunggu, tidak main rebut apalagi ribut sampai main pukul. Stop ya tidak sampai memukul.”

Alhamdulillah meski pernah ada fase memukul, tetapi cepat tertangani kembali dan tidak sampai adegan pukul-pukulan dua bersaudara yang mengkhawatirkan dan tetap menjadi saudara yang akur berbagi meski satu gelas untuk berdua.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

8. Serahkan pengambilan keputusan pada anak.

Saat keduanya sudah semakin membesar, biasanya akan ada saja kejadian rebutan sesuatu barang. Jika masih saja terus memperebutkan sesuatu barang atau mainan, sebaiknya serahkan solusinya kepada si Kakak dan si Adik, misal “Barang ini hanya ada satu. Ini sebenarnya milik siapa? Sebaiknya bagaimana supaya tidak rebutan lagi? Ayo diskusikan berdua Mas dan Dede. Bunda tunggu hasil keputusannya, ya.”

Dengan mempercayakan solusi dan keputusannya kepada Kakak dan Adik, keduanya jadi terbiasa mencari solusi dan merumuskan kesepakatan bersama sejak kecil. Hasilnya keduanya bisa berela hati berbagi membawa plastik belanjaan berisi satu jenis mainan untuk kado. Seperti terlihat pada foto di bawah ini.

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi

Jadi Bunda bisa lega melihat keduanya akur kembali setelah sebelumnya hampir rebutan di depan umum.

Sokaraja, 23 Mei 2019
-Ribka ImaRi-
Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (2018)
Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)
Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)
Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)
imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan