ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Tema Bebas Kategori Segar Writing Challenge Rumedia (WCR)

6 Cara Mengendalikan Mager

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s
Semoga pagi ini masih terus semangat ya💪🏻💪🏻

Meski begitu, semua ibu pasti pernah mengalami mager (males gerak). Aku pun pernah, malah sering. Sebenarnya, ini hal yang lumrah saja. Sebab ada kalanya si ibu sedang tak enak badan, lelah dan sedang ada masalah. Membuat ibu jadi malas melakukan aktivitas rutin rumah tangga yang sering kali membosankan.

Namun karena dulu aku penyintas depresi, jadi rasa magernya itu benar-benar berbeda. Tidak seperti mager biasa seperti saat sekarang. Setelah aku dalam kondisi kejiwaan yang stabil.

Dulu terasa tersoek-seok menghadapi mager akibat depresi yang dalam keadaan sakit kepala berat. Jika disentuh jari telunjuk pun terasa sakit sekali. Pelipis senut-senut. Leher belakang kencang. Itu benar-benar tidak minat melakukan hal apa pun selain rebahan sambil menangis terus menerus.

Terlebih saat fase depresi ketika PMS (Pre Menstrually Sindrome). Itu … bisa luar biasa magernya tak terkira kalau menjelang menstruasi. Ditambah sedang merasa down, sedih, galau tidak jelas akibat sesuatu hal dan menjadi beban pikiran. Rasanya sangat tidak enak, lengkap campur aduk jadi satu.

Depresi lebih sering dialami oleh orang dewasa, dan penyebabnya diduga berhubungan dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Beberapa faktor pemicu terjadinya depresi, di antaranya:
1. Mengalami peristiwa trumatis
2 Memiliki penyakit kronis atau serius
3. Mengonsumsi jenis obat tertentu
4. Memiliki riwayat gangguan mental lainnya. (https://www.alodokter.com/depresi)

Dulu aku bingung kenapa bisa mager parah sebegitunya. Aku baru tahu setelah belajar dari mentorku. Ternyata magerku bukan hanya karena hormon PMS, faktor genetik (keturunan) dari bapak, dan juga zat kimia di otak yang belum ketahuan. Ditambah lagi berasal dari ego diri yang kalau dituruti, ia akan menjajah tubuh si empunya ego, yakni diriku sendiri.

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung. Namun, seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga. (https://www.alodokter.com/depresi)

Karena sadar, demi kebaikan jiwa raga sendiri, aku tidak mau terus menerus berada dalam kondisi depresi dan dijajah ego diri sendiri. Sebenarnya, aku sudah sadar secara otodidak untuk mencari hal yang bisa membangkitkan semangatku. Karena seingatku, sejak hamil Tyaga dan Jehan aku sudah berjuang afirmasi untuk diri sendiri.

Namun, sejak belajar Mindfulness Parenting di Agustus 2016, inilah cara yang aku lakukan untuk mengendalikan mager agar sekaligus mengendalikan depresi juga, seperti berikut ini:

1. Self Talk untuk ACCEPTANCE

Ketika membuka mata bangun tidur pagi, aku merasakan gejala mager, malas memulai apapun, hanya ingin rebahan saja sambil mainan Hp, segera aku self talk (bicara pada diri sendiri), “AKU TERIMA RASA MALASKU, TAPI KALAU MALASKU KETERUSAN APA JADINYA TYAGA JEHAN, NANTI NGGAK ADA YANG URUS.” Lalu segera bangkit dari tempat tidur, “Yuk, bangun Ribka. Masak. Kasihan anak-anakmu nanti telat sarapan kalau kamu nggak bangun pagi.”

2. Segera Letakkan HP dan Bangkit!

Saat sudah ada niat untuk melawan mager, segera letakkan HP yang bisa membuat kita berlama-lama magernya. Segera bangkit dari rebahan atau duduk.

3. Afirmasi Positif

Lalu aku afirmasi seperti berikut ini yang sudah terbukti ampuh mengobati magerku. “Warna sayur yang sehat dan cantik untuk Tyaga Jehan ini yang kujadikan fokus untuk pikiranku. Agar disaat mager males masak bisa bikin kembali semangat demi Tyaga Jehan tetap sehat karena makan makanan sehat buatan bundanya. Meski masakan sederhana tetapi dibuat pakai bumbu cinta. Doaku selalu habis tandas tak bersisa. Maka ajaib, doa jadi kenyataan. Alhamdulillah Tyaga Jehan bisa makan dengan lahapnya.”

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Bukan lagi pikiran seperti saat mereka kecil dulu dan sedang mengalami fase susah makan, “Malas masak ah. Percuma masak capek-capek, malah nggak dimakan sama anak-anak.”

Akan tetapi dibalik, “Bismillah aku semangat masak demi anak-anak doyan makan masakanku.”

Hidangan di bawah ini adalah hasil masakanku pagi ini tanggal 19 Oktober 2020 saat masih ada sedikit rasa mager akibat sedang fase menstruasi dan udara dingin karena hujan. Sedianya bangun pukul 03.30 tetapi aku lanjut merem lagi. Pikiranku bermain-main berisik bicara sendiri, antara positif dan negatif.

sayangnya, egoku yang menang tadi. Malah jadi bangun pukul 4.30. Segera aku lawan magerku. Tubuhku kuajak gerak ke dapur demi memasak untuk Tyaga Jehan bisa sarapan dan nyemil sehat buatan bundanya. Taraaaaaa … inilah hasil aku melawan mager tadi. Alhamdulillah wajah bahagia Tyaga Jehan saat memakan jadi obat penghilang lelahku sedari pagi.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

4. Fokus Memulai Satu Pekerjaan Sederhana

Segera pusatkan pikiran untuk fokus pada pekerjaan sederhana rumah tangga. Biasanya aku mencuci piring. Langsung menuju dapur dan lakukan mencuci piring. Sambil cuci piring, terus self talk hiburkan diri sendiri untuk kembali semangat mengerjakan aktivitas rutin sehari-hari, “Hayuk, kamu pasti bisa Ribka. Semangat ya. Demi anak-anakmu.”

5. Acceptance (Menerima)

Sambil cuci piring, pelan-pelan gali akar penyebab mager dengan mengingat apa yang sedang mengganjal di hati. Lalu terima (acceptance) satu per satu. Contoh: “AKU TERIMA RASA KESAL HABIS BERANTEM SAMA SUAMI DI HP TADI. KARENA LDR-AN BIKIN MISKOMUNIKASI. AKU TERIMA RASA KESAL INI. JANGAN SAMPAI RASA KESAL INI AKU LAMPIASKAN KE TYAGA JEHAN DENGAN CARA MAGER MENGURUS ANAK. TYAGA JEHAN JANGAN SAMPAI MENDERITA HANYA KARENA AKU TIDAK BISA MENGENDALIKAN EMOSI.” Biasanya kalau sudah bisa acceptance jadi lebih cepat hilang magernya.

6. Bayangkan Suatu Tujuan yang Membuat Bahagia

Aku bahagia kalau melihat Tyaga Jehan menyantap hasil masakanku dengan lahap sampai berkali-kali bilang, “Enaaaak, Bun.” Kalimat ini yang kujadikan salah satu penyemangat aku mengendalikan mager. Bahkan sejak awal fase MPASI (Makanan Pendamping ASI) di tahun 2013, aku berjuang semangat membuat makanan jenis apa saja demi Tyaga bayi bisa lahap makan.

Sumber foto: dokumentasi pribadi (Mei 2013)

Sumber foto: dokumentasi pribadi (September 2013)

Sumber foto: dokumentasi pribadi (September 2013)

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Tak ada … tak ada seorang pun yang bisa menyemangati selain Allah dan diriku saat (dulu) suami sedang tidak bisa menjadi sandaran untuk semangat.

Anaklah yang kujadikan tujuan untuk semangat memulai hari. Aku tak ingin anakku terabaikan seperti masa kecilku yang kekurangan gizi atau makan akibat keadaan ekonomi orangtua yang di bawah garis kemiskinan. Aku tidak ingin anakku kekurangan gizi hanya karena rasa mager yang luar biasa.

Setelah kuterima (ACCEPTANCE) rasa mager yang mendera, segera kulawan dengan, “Bismillah Allah mampukan.” Otak depresiku dulu yang pernah korslet membuat malas ngapa-ngapain, segera kuajak fokus membayangkan muka bahagia Tyaga Jehan yang sangat lahap memakan hasil masakanku. Meski hanya masakan sederhana saja, sekadar tempe goreng tepung dan sop brokoli ala kadarnya seperti hidangan di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Ada haru luar biasa saat aku sedang drop depresi seorang diri ketika masih LDM (Long Distance Marriage) di tahun 2017, Tyaga dan Jehan bisa menerima masakanku yang seadanya dan menyantapnya lagi-lagi dengan lahap.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Sumber foto: dokumenstasi pribadi

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Meski hanya menghasilkan nasi goreng ala kadarnya, melihat TJ tetap lahap makannya, membuatku bahagia.

Alhamdulillah, nyata benar tidak sia-sia perjuangan mengendalikan mager. Sekarang aku bisa dengan mudah menyemangati Tyaga Jehan makan, “Semangat makannnya ya, Nak. Bunda aja semangat banget masaknya demi Mas dan Dede bisa makan lauk dan sayur sehat setiap hari. Bunda sampai bela-belain bangun pagi setiap hari. Biar bisa masak terus tiap hari. Biar Mas dan Dede bisa sarapan sehat setiap hari. Bisa makan sayuran yang enak dan sehat. Semangat, Nak!”

Demikian di atas caraku mengendalikan mager selama ini. Dari yang semula dalam keadaan depresi hingga kini menjadi ibu yang normal otaknya. Alhamdulillah atas seizin Allah, cara di atas terbukti ampuh.

Bagiku, jika ibu semangat, anak-anak pun akan semangat. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi ibu lain yang sedang mager parah So, terus berjuang semangat setiap saat ya, Ibu!

Sokaraja, 2 Juli 2020

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 21 buku Antologi
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMALP-2018)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA-2018)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC-2019)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan