Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness Mindfulness Parenting Tema Ditentukan Writing Challenge Rumedia (WCR)

5 Cara Sehatkan Pikiran Bagi Penyintas Trauma Agar Tetap Fit Jalani Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

“Ramadan, ‘ku rindu untuk bertemu

Siapkan hatiku juga hatimu

Ramadan, ‘ku rindu untuk bertemu

Dengan penuh cinta, jemput indah ramadan”

Bait di atas merupakan refrein dari lagu Ramadan Kurindu yang dinyanyikan oleh Kang Abay Adhitya dan keluarga. Sedari pertama lagu itu dirilis tahun 2018 aku sudah sangat meyukainya karena terasa merasuk di kalbu.

Untuk itu, aku yakin seluruh umat muslim di seluruh dunia tengah bergembira menjalani ramadan yang penuh berkah. Tak terkecuali aku. Ada rasa sukacita menyambut bulan puasa.

Namun, sebagai penyintas trauma sekaligus penyintas bipolar, disaat muncul rasa bahagia, tetap saja berkelebat peristiwa sedih dan traumatis yang otomatis datang menghinggapi pikiran tanpa diundang.

Bagaimana tidak? Karena ada begitu banyak luka batin yang kembali menganga ketika menjelang ramadan. Bak potongan film yang diputar kembali. Segala rekaman masa lalu di bulan puasa berkelebat-kelebat menimbulkan sensasi sedih, marah dan dendam. Sensasi yang selama tujuh tahun pernikahanku dulu masih membelenggu. Bersyukur dalam tiga tahun terakhir, peristiwa itu sudah bisa tidak memicu lagi.

Sebuah peristiwa mengharu biru yang telanjur terekam di otakku terjadi pada tanggal tujuh ramadan. Hari yang jatuh pada 17 Agustus 2010. Hari itu adalah hari bersejarah dalam hidupku. Aku menikah tanpa kartu undangan yang disebar supaya para tamu undangan bisa hadir di pernikahanku. Bahkan tak ada pesta kecil apalagi tenda biru saksi pernikahanku dengan pria yang sangat bertanggung jawab pada hal yang paling kecil sekali pun.

Karena mamaku berkali-kali mengatakan, “Mama nggak mau ada ramai-ramai di rumah.” Meski hanya berupa syukuran kecil. Pikirku, mungkin Mama tidak mau repot karena rumah kami dalam gang kecil di bilangan Kembangan, Jakarta Barat.

Akhirnya kami sepakat memutuskan menumpang menikah di desa kelahiran calon suamiku, di Tambak, Banyumas, Jawa Tengah. Kebetulan juga ada saudara dari pihak calon suami yang membantu mengurus akad nikah di KUA. Ya, sudah aku pasrah.

Namun, lebih menyakitkan … ketika bapakku tidak mau hadir sama sekali di acara pernikahanku. Mungkin beliau belum rela ketika aku pamit melangsungkan pernikahan secara agama Islam. Karena aku mualaf, jadi memang beliau tidak dapat menjadi wali nikah sehingga percuma saja jika datang. Mungkin seperti itu pemikirannya.

Sungguh, aku merasa pernikahanku tidak normal. Tidak ada tamu undangan yang datang, tidak ada tenda biru yang terpasang apalagi acara pesta pernikahan dengan biduan berdendang.

Pernikahanku yang terlaksana hampir 10 tahun lalu itu sangat mirip dengan himbauan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah ketika pandemi seperti saat ini. Agar tidak mengadakan acara yang bersifat kerumunan massa.

Padahal biasanya budaya orang Jawa, pernikahan dilangsungkan di pihak mempelai wanita. Tetapi pernikahanku dilangsungkan di pihak keluarga mempelai pria dan hanya dihadiri beberapa sanak saudara dari keluarga besar suami dan aku.

Kejadian tak lazim lainnya, sore setelah akad nikah, aku mendapat menstruasi. Sama dengan kondisiku saat ini yang sedang menstruasi di awal ramadan di tengah pandemi covid-19 yang mencekam. Bagi penyintas trauma, kejadian mirip seperti ini bisa sangat memicu.

Ya, saat ini seluruh dunia sedang mengalami pandemi covid-19 (Corona Virus Disease) yang bersifat global. Salah satu dampak nyata, ada banyak acara pesta pernikahan dibatalkan. Hanya boleh melangsungkan akad nikah tanpa keramaian.

“Pasti pengantin dan keluarga besarnya jadi sedih.” Aku membatin karena paham benar rasanya diposisi sedih seperti itu karena aku sudah lebih dulu mengalaminya sepuluh tahun lalu.

Sekarang, aku mendengar ceritanya dari banyak teman. Aku melihat beritanya di televisi dan membaca sendiri di berita online. Segala kondisi di tengah pandemi ini. Ada terselip rasa ikut bersedih. Seketika kepalaku terasa sakit karena teringat pernikahanku yang juga traumatis.

Meski sedihku saat ini sudah sangat terkendali. Hanya kelebat sekian detik untuk bersedih. Sangat berbeda dengan kondisi mentalku bertahun-tahun lalu yang sudah dapat dipastikan akan menangis berderai-derai. Itu terjadi sebelum Allah pertemukan dengan ilmu mindfulness parenting yaitu sebuah ilmu pengasuhan dengan penuh kesadaran. Termasuk mengasuh diri sendiri yang sedang bersedih.

Aku sadar penuh bahwa jika terus menerus mengingat dalam kesedihan, aku akan stres dan frustasi. Stres akan memberi efek buruk ke tubuh. Secara pengertian orang awam, tubuh akan memunculkan sensasi sakit kepala, mata berair, pelipis seperti ditusuk-tusuk, leher belakang kencang dan pundak pegal-pegal. Kalau sudah begitu biasanya tubuhku akan mudah terserang gejala flu. Seperti itulah terjadinya rantai sebab akibat sakit pikiran membuat sakit badan.

Padahal, mengalami gejala flu ditengah pandemi akan menambah masalah baru. Bisa-bisa aku terkena gangguan kecemasan, takut dan panik kalau-kalau aku akan terpapar covid-19.

Akan tetapi karena sudah sadar sepenuhnya rantai sebab akibat ini, jadi aku berusaha mengendalikan trauma agar tidak semakin menjadi. Demi mencegah tubuh menjadi drop.

Untuk itu, aku melakukan 5 cara sehatkan pikiran agar tetap fit jalani ramadan di tengah pandemi covid-19, seperti berikut ini :

1. Pausing, saat ada kelebat pikiran segera aku pausing dengan menarik napas panjang dan dalam lalu menghembuskannya panjang dan dalam juga. Lalu istighfar berkali-kali sampai sesak di dada menjadi lega.

2. Buang Sampah Emosi (BSE), buang pikiran buruk. Sebagai ibu rumah tangga aku melakukannya dengan cara menyapu atau mencuci piring atau mencuci baju. Membuang sampah-sampah emosi akibat tumpukan emosi dalam pikiran bersama aliran air. Rasakan setiap sensasi sakit di tubuh, lalu buang sakitnya bersama aliran air juga. Ini selalu aku lakukan sejak mengenal mindfulness. Alhamdulillah cara ini terbukti bekerja menyembuhkan umum biasa yang masih bisa disembuhkan tanpa obat pereda nyeri.

3. Self talk, bicara terus menerus pada diri sendiri untuk STOP memikirkan hal buruk. “Aku tahu sedang terpicu saat ini. Tetapi pelan-pelan stop pikirkan yang sedih-sedih ya, Ribka. Sudah tidak usah berlarut-larut dipikiran terlalu dalam. Segera bangkit. Aku yakin pasti bisa tetap stabil, tidak terpicu kenangan trauma pernikahan.” Agar dapat mengontrolnya menjadi kembali positif. Membuatku perlahan-lahan mudah berdamai lagi dengan keadaan saat ini. Ditambah kondisi pandemi covid-19 yang mengharuskan semua stay at home rasa sedih bercampur bosan menjadi rawan memicu keadaan membosankan. Harus berjuang lebih gigih agar tetap stabil secara emosi.

4. Acceptance, penerimaan atas keadaan trauma masa lalu dan masa kini yang hampir sama bentuk kejadiannya. Sebenarnya masa laluku itu berbeda. Hanya saja aku menjadi terpicu saat ini karena pikiran bawah sadarku menganggapnya mirip. Itu sebabnya aku butuh merekonstruksi pikiranku agar kembali sehat normal tidak terpicu sedih, “AKU TERIMA TRAUMA KEJADIAN AKU MENIKAH YANG HAMPIR MIRIP DENGAN KEADAAN ORANG LAIN YANG MENIKAH DITENGAH PANDEMI COVID-19 SEKARANG INI. AKU TERIMA TRAUMA ITU TIDAK BISA DIHAPUS DARI INGATANKU. NAMUN AKU YAKINKAN DIRI SAAT INI, KETIKA MENGINGATNYA LAGI AKU AKAN BISA TETAP KUAT. TIDAK LAGI BERSEDIH.” Dengan menerima pernikahanku yang traumatis menjadikan perasaan lebih ringan.

5. Afirmasi positif, menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang takut dan cemas akibat keadaan pandemi ini dengan pikiran-pikiran positif, “Aku pasti kuat menghadapi pandemi yang memicu ingatan-ingatan traumatis itu. Aku yakin pasti kuat mengendalikan sedihku. Aku nggak mau berlama-lama sedih.”

Aku yakin aku bisa tidak terpicu yang berarti. Sedih boleh saja. Tetapi sebaiknya dikendalikan. Agar tidak rugi sendiri karena menangis berlama-lama teringat pernikahanku yang sepi sama seperti banyak pengantin sekarang yang juga mengalami hal yang sama sepertiku. Aku yakin Allah beri kekuatan kepada mereka semua.

Seperti Allah memberiku kuat menjalani trauma setiap ramadan selama 10 tahun. Itu berarti aku sudah menghadapi trauma sebanyak 11 kali ramadan. Alhamdulillah, memang terbukti Allah memberi kekuatan sehat jiwa raga sampai pagi ini di puasa hari pertama.

Meski sedang tidak bisa menjalankan ibadah puasa di hari pertama karena sedang menstruasi, namun tubuhku tetap fit terasa sehat, sama sekali tidak ada sensasi sakit atau nyeri haid di perut. walaupun hanya tidur empat jam saja, tapi tadi bisa bangun memasak sahur dalam keadaan tubuh yang fit.

Karena aku melakukan 5 cara di atas jadi tubuh ikut menerimanya. Pikiranku sama sekali tidak menolak fase menstruasi akibat menyesal karena tidak bisa ikut berpuasa di hari pertama. Penerimaan ini membuat tubuh menjadi tetap sehat.

Sambil terus menerus memupuk afirmasi, “Aku semangat, sehat, kuat setiap saat jalani hari di tengah pandemi covid-19. Masya Allah … alhamdulillah benar-benar tetap sehat selalu sejak himbauan stay at home pada 15 Maret 2020. Meski pekerjaan rumah tangga tiada henti dan tanpa piknik sama sekali. Jiwa yang rentan stres bisa tetap fresh atas anugerah Allah dan rajin berlatih mindfulness seperti yang tertulis di atas.

Selamat mencoba berlatih!

Sokaraja, 24 April 2020

-Ribka ImaRi-

Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)

Mentor Kelas Mengasuh Anak (2018)

Mentor Kelas Tantrum Anak (2018)

Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (2019)

Founder ImaRi’s Corner Parenting (2020)

Writer Challenge Rumedia

Tema ditentukan: Ramadan

imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan