Mengasuh Inner Child Tragis demi Rumah Tangga Harmonis

Oleh: Ribka ImaRi Semilir angin sore mengibarkan ujung bawah jilbab instanku yang berwarna milo. Kupeluk manja pinggang lelakiku tersayang. Sebelum akhirnya kulepaskan saat ia hendak memarkir si Genio tepat di samping pintu masuk Restoran Pempek Kamto. Suasana Kota Purwokerto sore itu sedang lengang. Terlihat dari sedikitnya kendaraan yang terparkir. Mungkin karena efek pandemi Covid-19. Sejak …

0Shares

Inner Child Seorang Ibu yang Membenci Anak Pertama

Oleh: Ribka ImaRi Sumber foto: dokumentasi pribadi edit by canva oleh Pamela Wuri 24 Oktober 2019 Reaksi kita saat dewasa pada orang lain (suami, anak, mertua, saudara kandung, ipar, tetangga, dan lainnya) semua berakar dari apa yang kita dengar, lihat, alami dan rasakan sewaktu kecil. Reaksi ini muncul dari sosok “anak” dalam diri kita, atau …

0Shares

Inner Child Itu Nyata

Oleh: Ribka ImaRi (Mentor Kelas Mengasuh Inner Child) Sumber foto: dokumentasi pribadi edit by canva oleh Pamela wuri Ketika menuliskan kisah perjuanganku yang telah lalu ini, aku bersyukur karena Allah telah memberi anugerah kesembuhan padaku sebagai penyandang depresi dan bipolar. Pun, aku sudah tuntas memaafkan kedua orangtua sebagai sumber penyebab inner child-ku. (Terlebih untuk mama …

0Shares

Jam Tangan, Sebuah Kenangan dan Kekuatan Pikiran Menjadi Kenyataan

Oleh: Ribka ImaRi Desember 2007 “Mbak, aku jadi ambil yang model ini ya. Sepasang. Buat yang cewek, satu. Buat yang cowok, satu,” kataku pada pramuniaga toko jam tangan ternama di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Setelah cukup lama memilih, menimbang, dan sepakat dengan harganya, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada arloji berwarna silver. Jam tangan dengan …

0Shares

Mengunjungi Psikiater, Bukan karena Gila, Berjuang Melepas Rasa Malu Beracun, Melepas Stigma Kurang Iman, Yuk Belajar Ilmunya Secara Orang Awam

Oleh: Ribka ImaRi Alhamdulillah … di wadah sharing WAG support yang aku asuh sudah berjalan hampir 2 tahun sejak Januari 2020, semakin hari semakin bertambah Mentee (peserta yang kumentoring) akhirnya berani berobat ke PSIKIATER. Kami berjuang bareng-bareng saling support satu sama lain. Karena sudah mengalami sendiri jadi bisa memahami betapa sangat tak mudah MELEPAS RASA …

0Shares