Curahan Hati Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Menulis Radical Acceptance, Caraku Memaafkan Mama Sampai ke Dasarnya

Menulis Radical Acceptance, Caraku Memaafkan Mama Sampai ke Dasarnya

Oleh: Ribka ImaRi

“Sungguh … tidak ada seorang pun anak yang mau durhaka kepada orangtuanya, terutama ibu.” Kalimat selalu terngiang ditelinga dan pikiranku manakala dendamku membuncah. Ingin kuledakkan saja rasanya.

Siang yang terik ditanggal 27 Agustus 2017. Namun berbeda 180° dengan suasana hatiku yang mendung. Hatiku sedang merasa sangat sedih. Aku sudah hapal, kali ini bukan sedih biasa, tetapi kesedihan mendalam bagi seorang penyintas depresi dan bipolar.

Karena kelebat-kelebat ingatan akan peristiwa menyakitkan tiga tahun sebelumnya. Sebab dihari itu, tepat seminggu selepas melahirkan Jehan pada tanggal 20 Agustus 2014.

Jehan, gadis kecilku, putri keduaku yang berada dipelukanku, seperti yang terlihat di foto, hari itu tepat berusia tiga tahun. Setiap kali hari ulang tahunnya, aku seperti otomatis teringat peristiwa kelahirannya yang bagiku cukup traumatis.

Sampai-sampai aku selalu menyanyikan lagu dari Geisha setiap saat,

Lumpuhkanlah ingatanku,

Hapuskan tentang dia

Hapuskan memoriku tentangnya

Hilangkanlah ingatanku

Jik itu tentang dia

Ku ingin ku lupakannya….

Rasanya, betapa durhakanya aku karena ingin melupakan mama. Padahal beliau adalah sosok wanita yang melahirkanku.

Tak hanya rasa sedih yang terpicu. Aku pun marah akibat rasa kecewa mendalam terhadap mamaku. Dendam dan benci campur aduk menjadi satu. Aku tahu ini tidak benar, tetapi benar-benar sulit mengendalikan semua rasa itu.

Semua rasa yang tiba-tiba membuncah tanpa bisa dibendung lagi. Meski hanya sekadar mendengar kata “setoran.”

Ya, mama tak bisa datang menemaniku melahirkan anak kedua hanya karena hal sepele, banyak setoran kepada salesman yang datang ke kiosnya. Beliau tidak ingin ada tunggakan tagihan atas barang-barang yang dititipkan di kiosnya.

“Maaf ya, Nok. Mama nggak bisa menemani lahiran. Banyak setoran.” jelas mama di telepon beberapa hari jelang aku melahirkan anak kedua.

“Iya, Ma. Nggak apa-apa.” jawabku lirih dan otak blank. Aku bingung. Kemana akan kutitipkan anak pertamaku selama aku melahirkan.

Mulutku mengatakan nggak apa-apa. Namun perasaanku hancur berkeping-keping. Aku adalah putri pertama beliau, tetapi mengapa beliau tidak memperlalukan aku dengan sedikit perhatian menjelang hari yang penting bagiku. Meski jauh dari kata istimewa.

Hal di atas yang membuatku akhirnya bertahun-tahun menjadi dendam, sensitif saat mendengar kata “setoran” dan menjadi enggan bertemu dengan mama meski ajal akan menjemput. Apalagi setelah aku dikirimi foto-foto beliau yang sedang sakit dalam kondisi merangkak. Akibat sakit di bagian tulang belakangnya. Ada syaraf yang terjepit membuat beliau sulit berjalan dan harus merangkak.

Selepas melihat foto yang dikirim adikku via aplikasi whatsapp, membuatku berdesis sangat pelan, “rasakan!”

Karena teringat, aku pun pernah terbungkuk-bungkuk akibat menahan nyeri sehabis melahiran Jehan. Sementara, aku harus tetap mengasuh anak pertamaku yang baru berusia 2 tahun 5 bulan sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Aku marah, sedih, kecewa dan dendam karena saat itu mama seperti tidak iba sama sekali dengan kondisiku.

Sebuah kondisi dimana aku merasa nelangsa. Manakala suami sedang berangkat kerja dan aku benar-benar sendirian tanpa ada seorang pun dewasa yang mendampingi.

Lalu mama datang di hari kedua belas setelah aku melahirkan Jehan. Padahal jarak rumah kami, rumahku Depok, rumah mama di Jakarta Barat, hanya 35 Km saja. Dengan ringannya beliau berkomentar, “Mama lega kamu sudah pintar urus semua sendiri. Ya sudah mama pulang ya.”

Hanya semalam saja beliau menginap di rumahku. Padahal aku sangat ingin ditemani sampai besok dan besoknya lagi. Bahkan mungkin sampai satu minggu. Sudah banyak masakan mama yang kurindukan. Aku sangat ingin mama memasakkan sayur bobor bayam atau tumis kangkung kesukaanku.

Namun itu semua bagai angan yang menguap seiring berderainya air mataku melepas kepulangan mama ditengah hujan. Mama tak lagi bisa ditahan pulang setelah pertengkaran kami siang itu.

Ketika itu, ingin rasanya aku berteriak mengiba, tapi suaraku tercekat ditenggorokan. Egoku melarangku mengiba. Aku sangat marah! Akan aku tunjukkan aku mampu urus semuanya sendiri!

Flashback tiga tahun lalu, kala itu membuatku menjadi seperti bergantian tidak ada rasa iba sama sekali terhadap mama disaat beliau sakit.

Benar-benar anak durhaka aku ini. Aku mengutuki diri sendiri. Namun kutukan itu semakin membuatku menangis berderai-derai selepas melihat foto mama. Entah apa yang aku tangisi. Perasaanku sungguh tak jelas saat itu.

Padahal selama seharian itu aku sudah sangat terkendali dari bangun pagi pada pukul 3.30 wib. Meskipun semalam aku hanya tidur selama 5 jam karena ikut kelas online seputar mindfulness parenting yang dimentori oleh Bapak Supri Yatno sampai jam 22.30 wib. Ajaib sampai sesore itu belum ada kemarahan apalagi sampai ada penyesalan karena sudah menyakiti fisik apalagif psikis kedua anakku.

Melalui kelas-kelas online beliau, aku terus belajar memaafkan mamaku. Dengan teknik Radical Acceptance (RA), aku belajar menerima satu per satu dendam kepada mama.

-AKU TERIMA MAMAKU YANG ABAI TIDAK BISA MENEMANIKU MELALUI PROSES MELAHIRKAN.

AKU TERIMA KEADAANKU YANG TIDAK LEBIH UTAMA DARK SETORAN KIOS MAMA.

-AKU TERIMA MAMA YANG BISA TEGA MELEPAS AKU MANDIRI MENJADI IBU TANPA PENDAMPINGAN BELIAU.

-AKU TERIMA MAMA YANG TEGA BERKERAS PULANG KARENA PERTENGKARAN KAMI.

-AKU TERIMA ITU SEMUA SATU PER SATU DAN MENCOBA MEMAHAMINYA KARENA DULU MAMA SUDAH TIDAK PUNYA IBU SEJAK MAMA MASIH SMP. JADI MAMA PUN TIDAK PERNAH DIDAMPINGI MENJADI IBU. MAMA BELUM PERNAH BELAJAR MELALUI CONTOH NYATA MENJADI MAMA YANG MENDAMPINGI ANAK PEREMPUANNYA MELAHIRKAN. SEBAB MAMA PUN MELAHIRKAN TANPA PENDAMPINGAN. SEHINGGA MAMA MELAKUKAN HAL YANG SAMA KEPADAKU, SEPERTI YANG DIRINYA SENDIRI SUDAH ALAMI.

Plong rasaya menulis kalimat RA di atas. Akhirnya aku bisa menerima keadaan mama sampai ke dasarnya. Membuatku berangsur-angsur membaik dari rasa depresi.

Kini kutemui bedanya yang sebenar-benarnya antara perasaan ibu yang depresi dengan ibu yang stres berat.

IBU DEPRESI TIDAK AKAN BISA SESABAR IBU YANG STRES BERAT.

Aku bisa mendiagnosa diriku sendiri. Hari itu aku hanya stres berat. Jadi meski terpicu akibat teringat peristiwa yang sama, aku masih bisa sabar menghadapi tangis Jehan seperti di foto, sesaat menjelang pergi. Kala itu, aku bisa memeluknya dengan penuh kasih sayang dan sangat lembut.

Aku pun heran dengan diriku setelah melakukan RA membuatku bisa sesabar itu. MasyaAllah … sama seperti aku heran dengan diriku semasa depresi yang bisa sangat kejam ke anak.

Padahal Jehan tahu sekali kalau aku, bundanya sangat menyayanginya. Aku mengasuhnya dan mengurus semua keperluannya dengan sabar dan telaten.

Kala itu, aku bisa kembali menjadi ibu yang normal karena KABUT DEPRESIKU sudah menipis dibanding tahun lalu.

Pelan-pelan RA telah Allah izinkan banyak membantuku menyembuhkan luka batin akibat pengabaian dari mamaku.

Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.

Tulisan yang kubuat pada 24 Agustus 2017.

Aku akan terus menulis sampai semua luka batinku sembuh. Alhamdulillah, atas kebesaran Allah, kini luka batinku sudah benar-benar sembuh sejak islah pada tanggal 28 Oktober 2017.

0Shares

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. says:

    Inspiring story.

  2. Ribka ImaRi says:

    Terimakasih

Tinggalkan Balasan