Hari-Hari Bersama Duo ImaRi Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Mengasuh Inner Child (MIC) Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA) Parenting Tema Bebas Kategori Tetap Tips dan Trik Mengasuh Anak Writing Challenge Rumedia (WCR)

Membentuk Inner Child Menjadi Ibu Sabar

Oleh: Ribka ImaRi

1 Mei 2017

Jam dinding menunjukkan pukul 03.30 wib. Bunda semedi di kamar mandi malah ditunggu oleh anak gadis yang baru berusia 2 th 8 bln kala itu. Pintu kamar mandi sengaja bunda buka sedikit, supaya tetap bisa melihat muka bunda dan sambil mengobrol.

Karena Jehan anak kedua, bunda sudah tidak kaget lagi dengan fase perkembangan emosi seperti ini. Sedari kedua anak Bunda masih bayi, Tyaga dan Jehan memang terbiasa bangun di pagi buta.

Sewaktu anak baru satu, bunda masih sering kesal. Namun, sejak punya anak kedua, bunda belajar tidak kesal lagi. Bunda sudah belajar sadar bahwa anak cuma meniru orangtuanya. Memang Tyaga dan Jehan meniru bunda yang bangun pagi sekali, meski di hari libur.

Menghadapi fase anak kedua ini, bunda tidak lagi se-stres dulu. Karena sudah terlewati masa-masa sulit memberi pengertian panjang lebar sampai Tyaga dan Jehan benar-benar mengerti. Meski ujung-ujungnya bunda harus menahan sensasi mau BAK (Buang Air Kecil) atau BAB (Buang Ait Besar).

Meski pernah sekali waktu membuat bunda marah karena saking kesalnya akibat menahan sensasi tersebut. Namun, Bunda tak ingin menyerah. Bunda tetap berjuang Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten (SKST) untuk memberi pengertian secara panjang lebar kepada Tyaga dan Jehan saat bunda pamit ke kamar mandi.

Alhamdulillah … hasilnya sedari keduanya kecil belum pernah satu kali pun memaksa masuk ke dalam kamar mandi. Ya, Tyaga dan Jehan akhirnya bisa bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang sabar serta setia menunggu di depan pintu sampai bunda selesai. (Seperti yang terlihat pada foto).

Sepertinya, kalau sampai Tyaga dan Jehan ikut masuk ke dalam kamar mandi, bisa-bisa bundanya stres. Hehe. Semacam ada bisikan dipersalahkan dan menyalahkan diri sendiri.

***

Dulu belum paham kenapa bisa ada bisikan-bisikan itu. Setelah ikut Mindfulness Parenting, ternyata ini berkaitan dengan Inner Child-ku.

Sebab mamaku sering sekali cerita, bahkan seperti melabeli diriku, sewaktu batita dan balita, aku adalah anak yang cengeng luar biasa. Jika sudah menangis bisa sampai biru, aku susah ditinggal mama untuk lanjut mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak mau dipegang oleh siapapun bahkan oleh bapakku sendiri.

Aku hanya bisa dekat dengan mama. Jadi kalau mama beraktivitas di sumur, aku pasti ikut dan ditaruh di dalam bak atau ember.

Namun, dari cerita masa kecilku itu, membuatku belajar untuk bertekad mengasuh dan mendidik kedua anakku agar jangan sampai terjadi lagi seperti aku yang cengeng dan tidak mau ditinggal sama sekali.

Makanya aku berjuang untuk bersabar memberi pengertian panjang lebar sejak Tyaga dan Jehan masih bayi. Bahkan sejak dari dalam kandungan, aku sudah memberi nasihat panjang lebar (sounding) untuk memberi pengertian tentang segala macam aktivitasku sehari-hari.

Ajaib loh … bayi mungil tyaga bisa anteng sendirian di tinggal mandi atau BAB atau BAK, bahkan saat aku lumayan lama di kamar mandi. Setelah aku selesai, aku menyapa lagi keduanya dan tak pernah lupa kuucapkan terimakasih berulang-ulang.

Memang ajaib … yang kuingat sewaktu Jehan baru usia 1 tahunan, ketika pergi seharian bersama, mbahtinya (mamaku) sampai terheran-heran, “Kok bisa ya Bundanya ini itu bahkan pamit turun dari mobil tapi tidak kecarian apalagi menangisi bundanya”.

Jika sedang di rumah mbah-mbah yang lainnya, Tyaga dan Jehan juga tidak mengekor bundanya sama sekali. Ada terselip rasa bangga dan syukur pada diri sendiri. Karena bisa membuktikan pada mamaku, aku ini anak yang super cengeng, akhirnya bisa mencetak anak-anak yang mandiri dan percaya diri.

Semua ada hikmah-Nya. Dibalik cerita tentang jiwa masa kecilku (IC), aku jadi bisa bangkit dan belajar mencari cara terbaik dalam mengasuh serta mendidik kedua anakku dengan kasih sayang untuk memberi pengertian, bukan paksaan.

Hal seperti ini terlihat sepele, akan tetapi bisa menancap di pikiran bawah sadar. Bisa menjadi bekal pengasuhan untuk Jehan, agar kelak ia juga bisa menjadi ibu yang sabar. Aamiin

Sokaraja, 3 Agustus 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 22 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020, 16 antologi sudah terbit dan 6 antologi lagi sedang proses cetak)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-202p)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website ImaRi’s Corner Parenting (2020)

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan