Artikel Cerita Anak Curahan Hati Kisah Hikmah Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Parenting Tips dan Trik

10 Tips dan Trik Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Sounding, Bikin Anak Mudah Mengerti Tanpa Membuat Orangtua Emosi

10 Tips dan Trik Yang Sebaiknya Dilakukan, Bikin Anak Mudah Mengerti Tanpa Membuat Orangtua Emosi

Oleh: Ribka ImaRi

Setiap orangtua apalagi seorang ibu, pasti mendamba anaknya menjadi saleh dan saleha, cerdas, sehat, mudah diberi pengertian, gampang mendengar serta senang menuruti apa saja yang dibilang oleh orangtua.

Namun, pada kenyataannya impian itu seakan sulit digapai. Anak yang membangkang. Susah dibilangin. Susah dinasihati. Ngeyelan bikin emosi orangtua.

Itu terjadi karena kebanyakan orangtua belum sepenuhnya mengerti bagaimana cara yang baik untuk menasihati anak. Hampir rata-rata orangtua muda memberitahu anak dalam keadaan emosi karena belum bisa sepenuhnya mengendalikan emosi diri orangtua sendiri. Meski tidak semuanya seperti itu. Karena ada banyak juga orangtua muda yang sudah bisa sadar untuk sabar.

Akan tetapi tetap saja ada orangtua yang belum memahami cara tepat dan waktu yang tepat pula untuk memberi pengertian pada anak. Sehingga seringkali terasa sia-sia atas kerja keras memberi tahu anak. Anak tetap saja sulit tidak melakukan yang orangtua minta.

Sebagai ibu dengan masa lalu yang kelam, jiwa masa kecil (Inner Child) yang hampir semua aku merasa tidak bahagia, trauma-trauma kekerasan psikis sejak masih janin dalam kandungan, masa kecil, remaja, hingga dewasa menikah, semuanya semasa hidup, pengalaman hidup sendiri, pengalaman melihat lingkungan sekitar dan banyak membaca ilmu parenting baik dari buku maupun dari internet, ku jadikan pelajaran berharga untuk mengasuh dan mendidik kedua anakku. Agar anak-anakku tidak perlu mengalami hal buruk yang pernah ku alami.

Tyaga, anak pertamaku laki-laki sekarang berusia 8 tahun dan Jehan, anak keduaku perempuan yang kini berusia 5,5 tahun, telah menjadi guru kecil dan sumber semangat untuk aku bangkit dari depresi dan bipolar akibat pola asuh dan didikan yang penuh kekerasan.

Aku benar-benar tidak ingin mengulang pola asuh yang sama. Jadi aku berjuang belajar menanamkan dengan lembut tentang kesadaran pada kedua anakku sejak masih menjadi janin dalam kandungan melalui SOUNDING yang SKST (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten).

Atas seizin Tuhan, setelah proses panjang sounding banyak hal dan intensif selama 9 tahun, akhirnya anak-anakku bisa bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang manut nurut dengan kesadaran penuh dari hasil sounding tanpa paksaan apalagi kekerasan.

***

Sounding adalah memberitahu anak secara terus menerus sampai anak benar-benar mengerti dan memahami. Istilah ini semula belum ku kenal sama sekali. Tetapi ketika hamil anak pertama di Agustus 2011, aku langsung mencoba mempraktikkannya setelah pernah membaca artikel di majalah Kartini (lupa edisi dan judulnya) yang berisi tentang janin sudah mendengar sejak dalam kandungan.

Setelah bisa googling dengan mudah di genggaman tangan, sekitar tahun 2013, aku semakin tertarik membaca-baca artikel lain yang sejenis lebih intensif lagi di internet.

Faktanya janin memang sudah bisa mendengar sejak dalam kandungan. Ia bisa mendengar berbagai suara dari luar rahim ibu.

Ada tiga suara yang konstan didengarkan janin dalam kandungan, yakni suara detak jantung ibu, suara mendesing yang dihasilkan sirkulasi darah, dan pernapasan.

Namun di antara semua suara yang janin dengar, suara ibu merupakan bunyi favoritnya. Itulah mengapa saat bayi lahir, ia sudah mampu mengenali dan mengingat suara Anda. (Kapan Janin Bisa Mendengar Suara dari Luar Rahim Ibu?. Kumparan. 2019. https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/amp/kumparanmom/kapan-janin-bisa-dengar-suara-dari-luar-rahim-ibu-1s7UmYL0l8j).

Tulisan yang dicetak tebal di atas, merupakan tulisan yang sejenis dengan yang pernah aku baca di majalah Kartini semasa hamil Tyaga di Agustus 2011 dan Jehan di Desember 2013. Hal ini ku pegang teguh dan praktikkan secar otodidak sebisa yang ku pahami.

SOUNDING ini benar-benar aku lakukan sejak janin Tyaga dan Jehan dalam kandungan bahkan tetap berlanjut sampai sekarang.

Ketika Tyaga usai batita di tahun 2013 aku mulai mengenal dan membaca tentang sounding dalam ilmu parenting yang bersliweran di media sosial facebook. Karena sudah merasakan manfaatnya sejak Tyaga masih di dalam kandungan, membuatku semakin rutin mempraktikkannya sekaligus menulis di facebook untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman FB. Meski saat itu lidah ini masih terasa kelu menyebut kata sounding, tetapi aku luruskan niat untuk berbagi pengalaman karena sudah terbukti hasilnya.

Sampai akhirnya, ada banyak ibu yang ikut mempraktikkan dan merasakan manfaatnya juga. Jadi bukan sekadar teori belaka. Namun hasil nyata dari sebuah proses pembelajaran yang panjang.

Inilah tips dan trik yang sebaiknya orangtua (ayah bunda) lakukan saat SOUNDING :

1. Lakukan saat menjelang tidur dan sebangun tidur

Waktu paling khas untuk mencapai keadaan Alpha ini yang terbaik adalah tepat sebelum tidur atau tepat setelah seseorang bangun. Pada saat ini, pikiran terasa jernih, sangat mudah menerima informasi, dan dengat cepat mulai membuat koneksi dan membuka diri terhadap pemikiran dan realisasi.

Selain pilihan waktu yang tepat untuk masuk pada fase Alpha, ada metode-metode kusus untuk masuk gelombang Alpha. Musik Terapi Gelombang Otak (Brainwave) menggunakan stimulasi audio Gelombang Otak (Brainwave) sangat membantu bagi Anda untuk masuk pada fase Alpha ini, sekalipun bagi yang awam. Terapi ini cukup di dengarkan seperti mendengarkan musik dalam keadaan rileks. (Rileks Saat Belajar dengan Gelombang Alpha. https://www.gelombangotak.com/Alpha%20untuk%20belajar.htm)

Aku sudah memulai melakukan sounding ini lebih dulu jauh sebelum aku mengetahui informasi di atas.

Waktu tahu sedang hamil dari hasil positif di tespack, bangun tidur langsung menyapa janinku di dalam kandungan, “Assalamualaikum Dede … selamat pagi … sudah bangun belum? Lagi apa? Bunda sudah bangun nih. Yuk, kita salat dulu. Hari ini tolong kerjasama yang baik ya, Sayang.”

Begitu pula saat menjelang tidur malam, kalimat sapaan tetap rutin aku suarakan nyaring, “Selamat malam sayang … terimakasih sudah baik hari ini. Kita tidur dulu ya,” sambil elus-elus perut. Terutama saat janin sedang gerak aktif apalagi kontraksi bikin susah tidur.

Ajaib, janin Tyaga dan Jehan menjadi anteng dan aku–ibu hamil–bisa tidur nyenyak kembali.

Menyetel murrotal dan musik lembut juga bisa membantu proses sounding.

2. Lakukan dengan suara nyaring dan mimik muka menarik

Seingatku, setelah membaca artikel tersebut, pelan-pelan aku mulai mencoba bicara pada janin Tyaga diperut. Bicara bukan sekadar bicara. Tetapi BICARA DAN MEMBACA DENGAN SUARA NYARING.

Ada rasa canggung luar biasa. Merasa aneh ketika berbicara sendirian pada perut. Terlebih ketika berada di dekat suami apalagi orang luar rumah. Namun aku tetap dan terus kulakukan sejak Agustus 2011.

Aku juga membacakan buku janin Tyaga dengan suara nyaring. Waktu itu belum punya buku anak-anak. Aku memulainya dengan membaca nyaring buku apa saja, majalah misalnya. Termasuk saat suami membaca Al-Qur’an dengan bersuara nyaring.

3. Lakukan dengan suara lembut dan lambat

Di Maret 2012 aku tetap masih belum tahu istilah sounding ini, tetapi aku terus melanjutkan mempraktikkannya setelah Tyaga dan Jehan lahir sejak hari pertama. Dengan cara tetap rajin mengajaknya bicara bahasa sehari-hari mengenai berbagai macam kegiatan yang aku lakukan di dekat bayi Tyaga dan Jehan.

Dengan intonasi yang tetap lembut dan lambat agar otak mudah mencerna dan merekamnya. Aku cuma punya keyakinan, yang kulakukan saat itu ibarat sedang meng-install banyak hal pada otak anak. Yakin tiba saatnya nanti akan mudah ter-searching menjadi sebentuk kosakata dan kalimat yang keluar di waktu yang sesuai perkembangan usianya.

Keyakinanku saat itu, hanya karena aku sudah lelah di asuh dan di didik oleh bapakku yang tukang marah dan ngomel setiap saat. Aku tidak mau anakku mengalami hal yang sama. Dibesarkan dalam keadaan penuh teriakan, marah dan omelan. Jadi aku berjuang lembut. Meski sangat sulit pada awalnya. Apalagi saat terpicu amarah dan membuat nada suara meninggi. Aku buru-buru berjuang kerahkan pernapasan yang panjang dan dalam agar bisa menurunkan nada dan volume suara kembali.

Dikutip dari Healthline, suara yang tinggi akan membuat pesan yang disampaikan sulit diterima oleh seseorang, termasuk anak-anak.

Semakin tinggi nada suara yang disampaikan, akan menurunkan daya penerimaan si anak terhadap pesan yang ada.

Terlepas dari apa pun, teriakan yang merupakan ekspresi dari kemarahan, ini membuat anak-anak merasa takut.

Apalagi jika teriakan itu disertai dengan kata-kata yang sifatnya menghina dapat menimbulkan efek jangka panjang seperti kecemasan, tingkat percaya diri yang rendah, dan peningkatan agresifitas.

Sebaliknya, menyampaikan dengan cara yang tenang dapat membuat anak merasa dicintai dan diterima atas segala sikap buruk yang dimilikinya.

Seorang psikiater di Harvard Medical School, Joseph Shrand, Ph.D, mengatakan, seorang anak akan semakin tidak mendengarkan apabila diberi tahu dengan cara berteriak. (Ini Efek yang Akan Terjadi jika Sering Berteriak kepada Anak. 2019. https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/19/114725865/ini-efek-yang-akan-terjadi-jika-sering-berteriak-kepada-anak?page=3)

4. Lakukan dengan kata positif

Dengan mempertahankan kata-kata positif dan optimistis di otak, aktivitas di lobus frontal bisa terstimulasi. Area di otak ini meliputi pusat bahasa yang berhubungan langsung ke area motor korteks yang mendorong seseorang melakukan tindakan.

Riset yang dilakukan Newberg dan Waldman menunjukkan semakin lama seseorang memusatkan pikiran dengan kata positif, semakin banyak bagian lain di otak yang terstimulasi. Misalnya, fungsi lobus parietal mulai berubah, yang kemudian mengubah persepsi diri dan orang lain yang berinteraksi dengan Anda. (Pilihan Kata Bisa Mengubah Fungsi Otak. 2013. Kompas.com. https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/sains/read/2013/12/05/1632286/Pilihan.Kata.Bisa.Mengubah.Fungsi.Otak).

5. Biasakan dengan kosakata sesuai ejaan baku

Aku terus melanjutkan rajin memberitahu segala macam aktivitas yang sedang kulakukan demi tujuan Tyaga dan Jehan mengenal banyak kosakata baku dan jenis aktivitas diluar rahim. Dengan memulai membacakan berbagai macam buku apa saja dengan suara nyaring.

Keyakinanku bahwa nantinya Tyaga dan Jehan akan menjadi anak yang mudah diajak komunikasi dua arah dan diarahkan karena sudah mengenal banyak kosakata dan banyak hal sejak dalam kandungan bundanya.

6. Lakukan dengan rinci dan jelas

Sekadar mau makan, aku mengajak janin salat dan berdoa. Lalu menyebutkan komponen makanan apa saja yang sedang aku makan. Misalnya, tentang nama makanan, rasa dan warna. Terbuat dari apa. Siapa yang buat. Masak sendiri atau beli dari warung. Ayahnya sedang apa? Bagaimana suara ayah. Hampir selalu seperti itu yang aku lakukan.

Akan mandi pun aku pamit ketika menyiram air ke tubuh, menyabuni dan keramas. Bahkan saat BAK dan BAB aku pamit dan mohon maaf jika mengedan membuat “dede” (panggilan janin Tyaga dan Jehan) terganggu dan mungkin kebauan.

Lebay sekali memang kelihatannya. Tetapi terus menerus aku lakukan sejak Tyaga Jehan janin, bayi, batita, balita dan anak-anak saat ini.

7. Lakukan saat hati anak sedang bahagia

Pada tingkat ilmiah, kita merasakan kebahagiaan dalam neurotransmitter, yang merupakan sel “pembawa pesan” kimiawi kecil yang mengirimkan sinyal antara neuron (saraf) dan sel tubuh lainnya.

Neurotransmitter tersebut bertanggung jawab dalam proses dan perasaan di hampir setiap aspek tubuh, dari aliran darah hingga pencernaan. (6 Manfaat Bahagia dalam Kesehatan Bisa Bikin Umur Lebih Panjang. theAsianparent.https://www.google.co.id/amp/s/id.theasianparent.com/manfaat-bahagia/amp).

Agar anak makin bahagia, selalu ucap kata tolong saat sounding dan terimakasih sesudah anak melaksanakan sounding.

Tatap mata anak penuh antusias bahagia. Maka rasa bahagia orang mengalir ke anak. Binar tatapan mata bahagia dari orangtua juga membuat anak percaya diri karena merasa berharga sebab orangtua selalu meluangkan waktu khusus berbicara dengan anak.

8. Lakukan tanpa malu-malu

Ada satu peristiwa yang kuingat sampai sekarang tentang proses sounding sejak janin dalam kandungan. Ketika aku sedang menunggu suami mengurus perpindahan KK dan KTP. Saat itu usia kandunganku sudah hampir 8 bulan di Febuari 2012. Sudah terlihat besar. Aku mengelus-elus sambil bicara, “Sayang … kita sabar ya tunggu ayah. Ayah lagi ke lantai dua. Urus KTP ayah bunda. Kalau kita ikut ayah, bunda sudah nggak kuat naik tangga. Jadi kita duduk aja di sini ya.”

Seketika ada seorang bapak yang memandang heran penuh tanda tanya sambil melihat aku yang sedang duduk sambil mengelus dan bicara pada perut.

Dari kejadian di atas aku belajar untuk tidak menghiraukan penilaian orang lain atau lingkungan. Yang terpenting aku meluruskan niat untuk mengasuh dan mendidik anakku sejak masih janin dalam kandungan.

Sampai sekarang, aku tetap lanjut melakukannya di mana saja dan kapan saja ingin menyampaikan sounding dengan suara nyaring. Tanpa rasa malu dilihat orang. Biarkan mereka melihat. Siapa tahu mencontoh.hehe.

9. Lakukan dengan SKST (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten)

Meski belum terlihat hasilnya, belum tentu tidak ada progres. Teruslah semangat, tetaplah konsisten, berjuang sabar memberi pengertian, Telaten memberitahu anak tentang banyak hal

10. Serahkan hasil kepada Tuhan

Ingat selalu bahwa tidak ada proses yang instan. Pun, tidak ada yang tidak berhasil. Pasti ada progres, meski mungkin sangat kecil jadi belum terlihat berarti. Tetap hargai progres sekecil apapun.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk kami berproses sekeluarga. Kami serahkan hasilnya pada Tuhan. Yang penting tetap jalani tahapan-tahapan prosesnya. Selalu yakin tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tak ada hasil yang berkhianat pada proses.

Alhamdulillah hasilnya nyata demikian adanya. Anak-anak yang lebih mudah diberitahu karena terbiasa diberitahu sejak dalam kandungan 9 tahun lalu. Di saat karantina mandiri dalam keadaan pandemi corona seperti sekarang ini, Tyaga dan Jehan sudah dengan mudah diberi tahu karena sudah terbiasa disounding sejak keduanya batita seperti yang terlihat di foto. Di sounding untuk tidak keluar rumah dulu sebelum mandi dan sarapan. Sekarang disounding untuk sabar stay at home.

Alhamdulillah dengan kesadaran tanpa paksaan untuk betah dan tetap bahagia meski hanya di dalam rumah saja, tanpa keluar pagar rumah sama sekali sejak 14 Maret 2020.

MasyaAllah … Alhamdulillah …

Based on true story Agustus 2011-April 2020

-Ribka ImaRi-

-Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC)

-Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS)

0Shares

Anda mungkin juga suka...