Bipolar Depresi ImaRi's Blog Inner Child Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Mental Illness

10 September 2021, Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

Oleh: Ribka ImaRi

Semangat pagi Sahabat ImaRi’s!

Sahabat, pernahkah merasa dihakimi seperti di bawah ini?

“Kurang syukur!”
“Kurang iman!”
“Kurang ibadah!”

Tidak sesederhana PENGHAKIMAN di atas! Mereka yang menghakimi di masa kini, tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu kita. Seperti halnya, pada masa remajaku di tahun 1993. Pada masa 28 tahun lalu, aku yang bernama lengkap Ribka Triwahyu Listiyaningsih adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun yang berjuang sekuat tenaga MENAHAN DORONGAN KUAT ATAS PIKIRAN UNTUK BUNUH DIRI dengan menceburkan diri ke sungai setiap kali terngiang omelan bapak setiap hari bagaikan di setiap detik, selalu bilang, “LU BUKAN ANAK GUA. LU ANAK SETAN!” Padahal aku anak kandung bapakku

Baca juga:

Sumpah serapah di atas ikut melintas di pikiran saat aku melintas di atas jembatan menuju sekolahku sejak SD, SMP dan SMU. Karena pasti melewati jembatan itu untuk menunggu angkutan umum. Membuat perasaan terpuruk mendalam dan merasa tidak berharga dalam diri seorang gadis remaja yang mencari jati diri dan kepercayaan diri yang seharusnya didapat dalam peluk cium dari sosok bapak sebagai cinta pertama anak perempuan. Ketika teringat kejadian 25 tahun silam, aku masih sering menangis sendirian dalam durasi sangat lama berjam-jam. Ini berlangsung sampai di tahun 2017. Terpuruk mendalam akibat banyak permasalahan datang bertubi-tubi kembali membuatku ingin bunuh diri saja.

Berikut foto transformasi ketika aku masih depresi yang menangis berjam-jam di tahun 2017 dan sudah bisa tertawa sumringah di tahun 2020.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Pencegahan Bunuh Diri Akibat Luka Batin Inner Child

Tahun lalu, aku berdiri di atas jembatan besar pada bulan Agustus 2020, selama 27 tahun kemudian di usiaku yang menjelang 40 tahun, Tuhan beri kesehatan jiwa raga luar biasa. Aku sudah bisa tidak ada sedikit pun muncul sensasi pikiran yang memicu percobaan bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai besar seperti di masa remajaku. Aku sudah bisa tegar berdiri tanpa ada rasa serangan panik akibat takut tiba-tiba tercebur, seperti yang kurasakan sewaktu usia SD.

Sumber foto : dokumentasi pribadi (jembatan Linggamas, Banyumas, Jawa Tengah)

Padahal selama 27 tahun, ribuan kali dorongan itu nyata, hadir saat depresi meradang akibat luka batin Inner Child (masa kecil) akibat PENOLAKAN bapakku. Bersyukur Tuhan selalu menjagaku hingga tetap hidup sampai pagi ini. Menghirup udara segar di pagi hari seraya mengucap syukur karena kini jiwa masa kecilku sudah mendewasa.

Sejak aku bisa lancar menyetir di akhir tahun 2007, pernah ratusan kali berkelebat dorongan kuat ingin menabrakkan diri ke truk yang ada di depan mobil yang kukendarai. Apalagi sejak menikah di tahun 2010, ketika aku putus asa atas hubunganku dengan suami, bapak, mama, ipar dan tetangga yang sedang ruwet dan semakin ruwet ketika salah satu dari kedua anakku sedang tantrum di dalam mobil yang sedang melaju. Aku bersyukur Tuhan benar-benar menjagaku dan kedua anakku.

Sumber foto: dokumentasi pribadi (Depok, Jawa Barat)

Kini, alhamdulillah aku benar-benar sudah bisa stabil emosi sehingga sama sekali tidak terpicu dasyat seperti dulu ketika menghadapi kejadian apapun. Bahkan, ketika sudah menjadi Mentor Kelas Mengasuh Inner Child, saat beberapa ibu menghubungiku dan mengabarkan sedang muncul rasa ingin bunuh diri, seperti isi chat whatsapp di bawah ini.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Baca juga: Profil Mentor Kelas Mengasuh Inner Child

Jika ingin belajar Mengasuh Inner Child, bisa ikut kelasnya seperti yang tertera pada flyer di bawah ini:

Sahabat ImaRi’s, aku paham sekali rasa dorongan kuat untuk bunuh diri. Namun Tuhan tetap memberiku hidup. Aku percaya itu semua Rahasia Tuhan. Sehingga bisa berempati dan mendampingi mereka yang berniat bunuh diri akibat masalah dalam rumah tangga dengan suami, anak, orangtua, mertua, saudara ipar atau bahkan tetangga yang terkadang sangat sepele. Jika bagi mereka yang MENGHAKIMI ini semua sepele, tapi tidak bagi kami penyintas DEPRESI AKIBAT LUKA INNER CHILD.

Perlu digali lagi mendalam tentang penyebab depresi yang tidak semudah mengucap stigma masyarakat selama ini.

Penyebab Depresi

Depresi lebih sering dialami oleh orang dewasa, dan penyebabnya diduga berhubungan dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Beberapa faktor pemicu terjadinya depresi, di antaranya:

  1. Mengalami peristiwa traumatis
  2. Memiliki penyakit kronis atau serius
  3. Mengonsumsi jenis obat tertentu
  4. Memiliki riwayat gangguan mental lainnya

(https://www.alodokter.com/depresi)

Setidaknya ada tiga penyebab padaku.

Pertama, bisa karena cidera otak akibat jatuh, ini yang aku belum tahu ceritanya. Namun yang pasti aku mengalami beberapa peristiwa traumatis di saat kecil hingga dewasa. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) verbal dan psikis yang dilakukan bapakku selama tinggal serumah sebelum menikah (1980-2010) , kematian mas kandung yang sakit keras di usiaku yang masih SD (1992), pernikahanku yang traumatis tanpa kehadiran bapak kandung (2010), kecelakaan yang hampir merenggut nyawa suamiku (2011), proses melahirkan kedua anakku (2012 & 2014) yang juga traumatis, sampai proses kepindahan rumah yang juga traumatis (2016). Semua itu mengendap di otakku tanpa bisa kuungkap perasaan yang menekan jiwaku yang sudah sakit sedari ribka kecil.

Kedua, aku yang pernah memiliki penyakit kronis bernama kista endometriosis selama 17 tahun (1994-2011) membuatku ingin mengakhiri hidup saja saat serangan nyeri haid itu hadir tiba-tiba tiada ampun selama belasan jam. Bukan karena tidak punya iman, terserah saja jika ada yang melabeli aku kurang iman. Biarkan! Namun Tuhan Maha Tahu seperti apa sakitnya. Sakit yang benar-benar tak tertahankan. Keringat mengucur deras sebesar butiran jagung, bibir membiru, muntah berjam-jam yang tak berkesudahan sampai isi perut terkuras habis dan rasa terpelintir seperti cucian yang diperas, vagina kram, seluruh badan menggigil. Aku bisa tiba-tiba pingsan tak berdaya di halte bus, di rerumputan pinggir jalan, di koridor kampus yang sedang sepi, di atas motor dan di atas setir mobil yang menepi, kuletakkan kepala sambil menadahi muntah yang tak kunjung berhenti. Ya, bagaimana tidak depresinya aku menghadapi sakit luar biasa ini selama 17 tahun lamanya. Aku selalu berharap tertidur lama hingga tak sempat merasakan sakit luar biasa.

Sakit kistaku ini yang baru bisa membaik setelah usiaku 31 tahun saat hamil anak pertama pada Agustus 2011 membuat kista sebesar 6,5 cm bisa hilang seiring kehamilan yang membesar. Kemudian baru benar-benar sembuh nyeri haid pada November 2020. Sampai tulisan ini kurepost di tanggal 10 September 2021 dan sedang menstruasi H5 alhamdulillah sudah tak ada lagi rasa sakit setitik pun.

Ketiga, dengan memiliki seorang bapak yang mempunyai gangguan mental yang hampir setiap detik marah-marah, akhirnya aku pun memiliki riwayat gangguan mental berupa depresi dan bipolar yang menurun dari bapakku.

Kini, atas perkenan-Nya aku bisa sehat jiwa dan raga setelah menempuhi banyak proses kesembuhan selama empat tahun penuh. Salah satunya melalui Melalui pertolongan Tuhan dari pembelajaran MINDFULNESS PARENTING (MENGASUH INNER CHILD DIRIKU LEBIH DULU). Akhirnya aku bisa berada di sini untuk memberi dukungan bagi banyak jiwa yang terluka. Begitu pula denganmu Sahabat, engkau begitu berharga di mata Tuhan sehingga masih hidup sampai detik ini. Terus berjuang hidup demi dirimu dan orang-orang yang menyayangimu.

Sumber foto: dokumentasi pribadi pada pengunduhan twibbonize.com/ssu2020

***

Ajakan kuperoleh dari sahabat di facebook bernama Mbak Febria Rike Erliana dengan postingan seperti berikut ini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10221474777956923&id=1175094805

Kadang kita ragu untuk menyelamatkan seseorang dari ide atau percobaan bunuh diri. Apakah karena ketidakpercayaan diri kita terhadap ilmu dan kemampuan yang kita miliki? Padahal, orang dalam kondisi depresi seringkali tidak membutuhkan solusi kongkret. Mereka hanya perlu didampingi, didengarkan dan dipahami.
Pahlawan tidak harus serba bisa.

Everyone can be a hero.
Everyone can save lives.

Mari sebarkan kampanye pencegahan bunuh diri dengan memasang foto Anda menggunakan twibbonize.com/ssu2020. Mulai malam ini, Kamis 10 September 2020 pukul 00.00-24.00 sebagai #HariPencegahanBunuhDiriSedunia . Mention atau tag instagram @sbysuicideupdate , @iaspinfo , dan @thepsychegram .
Tambahkan #worldsuicidepreventionday2020

#surabayasuicideprevention2020 .

Salam sehat mental!

Salam sehat jiwa dan raga!

Mari bergerak bersama!

Sokaraja, 10 September 2020

Diperbaharui, 10 September 2021

-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 38 buku Antologi sejak Januari 2019 (Sebanyak 27 antologi sudah terbit, 18 dari Penerbit Rumedia, 8 dari Wonderland Publisher dan 1 dari Aksana Publisher)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/Desember 2019-Sekarang)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020-Sekarang)
❤️Mentor Kelas Be Mindfulness Wife (BMW/Mei 2021-Sekarang)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (Desember 2019-sekarang)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020-sekarang)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

13 Komentar

  1. etinurhayati206 says:

    Keren banget, Say

  2. Ribka ImaRi says:

    MasyaAllah alhamdulillah terima kasih bunda Eti🙏

  3. Anonim says:

    Alhamdulillah Allah masih jaga kita…

  4. says:

    Peluk mb Imari. Senyumanmu bikin hati meleleh. Sehat selalu ya Mbak dan sukses membersamai teman-teman untuk mencegah bunuh diri.

  5. Satu kata buat Mbak Rika, hebat!
    Pertama peluk dirimu Mbak…suka sekali baca artikel ini, tentang kisahnya pun semangat untuk mengedukasi pun menyemangi semua di hari pencegahan bunuh diri sedunia.
    Semoga segala daya upaya untuk membantu sesama agar tetap kuat dan semangat diberkah dan dimudahkan-Nya.
    Sehat selalu ya Mbak Ribka. Semoga sukses!

  6. Ikut berbahagia mba.. dirimu bisa menikmati kepenuhan hidup saat ini. Terbebas dari cengkeraman masa lalu yang menyakitkan. Semoga ke depan semakin menjadi berkat untuk orang lain ya.. sehat selalu mbaa. Peluk dari Jogja.

  7. Ribka ImaRi says:

    Peluuuk balik Bunda Hani, terima kasih sudah melihat senyumku🙏terima kasih banyak atas doa dan supportnya.

  8. Ribka ImaRi says:

    Peluk balik Mbak Dian🤗terima kasih banyak pelukannya. Terima kasih atas apresiasi, doa dan supportnya ya🤗sukses selalu juga untuk Mbak Dian💪

  9. Ribka ImaRi says:

    Terima kasih Mbok, atas doa dan supportnya ya. Aamiin..aamiin…peluk balik dari Purwokerto🤗🤗

  10. Alhamdulillah. Sekarang kalau pikiran bunuh diri berkelebat, udah kayak iklan aja dan gak diwujudkan.

  11. Ribka ImaRi says:

    Alhamdulillah🤗🤗pelan-pelan menuju tuntas pikiran sekedip mata aja ya Mbak🤗🤗

  12. Anonim says:

    Peluk mbak Ima. Masyaallah sudah melewati hari2 penuh perjuangan, semangat terus ya.

    Saya suka tulisan ini, sangat menginspirasi bagi pembacanya. Teruslah menebar kebaikan melalui tulisan.

  13. Ribka ImaRi says:

    Peluk balik Mbak Dawiah, terima kasih sudah tulisan ini dan sudah support🙏
    Doa terbaik juga buat Mbak Dawiah🤗

Tinggalkan Balasan