Antologi Hari-Hari Bersama Duo ImaRi ImaRi's Blog Inspirasi dan Motivasi ala ImaRi Kelas Parenting Online Tulisan Ribka ImaRi (Owner)

10 Manfaatnya Membacakan dan Bicara Nyaring Sejak Janin dalam Kandungan dan

Oleh: Ribka ImaRi

Masa kecil yang suram dengan segala keterbatasan yang ada, membuatku bertekad memperbaiki keadaan. Dimulai ketika awal menikah, agar suatu saat aku punya anak, jangan sampai mengalami hal yang sama sepertiku. Diantaranya, kenangan masa kecil hingga dewasa yang malas membaca buku sekalipun itu buku pelajaran sekolah. Karena tidak adanya fasilitas yang mendukung seperti majalah dan buku anak yang menarik minat baca.

Aku ingat betul, walaupun sudah berkuliah di perguruan tinggi negeri, tetap saja belum bisa rajin membaca buku mata kuliah. Hanya jika menjelang ujian dan saat membuat skripsi saja, baru aku betah membaca huruf per huruf demi menunaikan kewajiban sebagai mahasiswi. Jadi ketika awal menikah di akhir tahun 2010, pelan-pelan aku membangun minat baca diri sendiri lebih dulu dengan berlangganan majalah Kartini selama satu tahun. Dengan tujuan jika anakku lahir, aku bisa menjadi comtoh nyata orangtua yang suka membaca.

Dalam salah satu artikel di majalah Kartini tersebut—yang aku lupa nomor edisinya—salah satu halamannya menbahas tentang stimulasi perkembangan otak bayi. Seingatku, kurang lebih seperti ini, stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir. Bahkan sejak janin masih berusia enam bulan dalam kandungan. Mendapat informasi penting seperti ini membuatku semangat mencoba mempraktikkan teori ini jika suatu saat Tuhan izinkan aku hamil. Pada tahun 2011, mengakses internet bukanlah sesuatu yang mudah. Karena masih sangat terbatas tetapi perlahan aku mencoba mencari informasi melalui tablet suami yang memakai modem.

Dari sana aku mendapat informasi bahwa sejak usia kehamilan Bunda mencapai 28 minggu, ternyata si Kecil sudah bisa memberikan respon terhadap suara dari luar rahim. Jadi, Bunda dan Ayah dapat melakukan stimulasi indra pendengaran janin menjelang trimester ketiga. Ajaklah si Kecil mendengarkan alunan musik lembut yang menenangkan. Sebab, alunan musik lembut juga akan bermanfaat menjaga keteraturan detak jantung janin. Selain menggunakan musik berirama lembut, Bunda juga dapat melakukan cara lain seperti memanggil-manggil nama si Kecil atau membacakan dongeng setiap hari. Cara-cara sederhana ini akan indra pendengaran janin berkembang maksimal. (https://www.zwitsal.co.id/momen-kehamilan/yuk-stimulasi-tumbuh-kembang-janin-di-perut-dengan-cara-cara-ini-bun).

Tak berapa lama, Tuhan memberi kepercayaan padaku dan suami. Aku dinyatakan positif hamil pada bulan Agustus 2011. Saking bahagianya, aku langsung mempraktikkan ilmu yang kudapatkan dari majalah dan internet tersebut. Aku mulai mengajak bicara janin di perutku dengan suara nyaring untuk pertama kalinya setelah hasil dua garis biru pada alat testpack, “Assalamualaikum, selamat pagi, Sayang. Terima kasih ya sudah hadir di perut Bunda.”

Setiap saat ada waktu luang dan santai—karena saat itu aku sudah berhenti bekerja di kantor—aku pun membacakan majalah Kartini dengan bersuara nyaring layaknya mendongeng. Walaupun saat itu aku masih sering merasa aneh. Karena seperti bicara sendirian pada perut. Ditambah pikiran, masa janin dibacakan majalah sih? Namun, pikirku lagi, ‘Tak mengapa. Pasti banyak kosakata baku yang bisa direkam oleh otak janinku yang sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat.’

Di awal tahun 2012 ketika kehamilanku memasuki trimester tiga, aku mempunyai satu keyakinan akan ada hasil dari usahaku ini. Salah satunya, saat perutku semakin membesar dan sedikit kontraksi yang menimbulkan nyeri di perut sehingga membuatku susah tidur. Segera aku bicara pada perut dan membacakan majalah dengan bersuara nyaring atau menyalakan murottal dan melafalkannya bersama.

“Dede, yang baik ya … yang anteng. Bunda mau bobo dulu. Kita sama-sama bobo ya, Nak.” Sambil bicara nyaring dan elus-elus perutku seperti biasanya. Lagi-lagi ajaib! Janinku langsung anteng dan tidak kontraksi lagi. Lalu aku bisa tidur dengan tenang sampai pagi. Semakin takjub dengan sedikit ilmu yang kudapat ini, membuatku semakin semangat mempraktikkannya. Meskipun belum semua orang tahu apalagi memahaminya. Bahkan suamiku sendiri pada awalnya harus dipaksa dulu agar mau bicara nyaring pada janin.

Kegiatan membacakan nyaring terus aku lakukan hingga bayiku lahir di bulan Maret 2012. Aku mulai membacakan buku-buku yang berwarna menarik. Ada banyak keajaiban aku temui dari hasil membacakan nyaring. Antara lain, bayiku jadi mudah anteng dan jarang menangis. Bisa jadi karena merasa nyaman ketika dibacakan nyaring dan juga diajak mengobrol dengan suara nyaring. Kemudian ketika anak pertamaku berusia dua tahun, aku mulai mengikuti arisan buku yang lebih lengkap. Sampai akhirnya buku bergizi itu bisa di peluk oleh anakku saat ia berusia 2 tahun 4 bulan.

Dengan buku yang sesuai dengan usia batita menjelang balita, aku semakin rajin membacakan buku untuk kedua anakku dengan suara nyaring dan intonasi menarik serta mimik muka penuh ekspresi sebagai pembelajaran emosi anak. Hal ini terus aku lakukan dengan SKST (Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten). Aku pun memperlakukan hal yang sama untuk anak kedua ketika masih janin. Sama persis saat aku memperlakukan anak pertamaku.

Kelihatan ada banyak sekali keajaiban hasil dari membacakan buku dengan suara nyaring untuk anak. Diantaranya, kedua anakku jadi lebih cepat lancar bicara. Lebih mudah paham saat diajak bicara. Lebih mudah mengerti kalimat perintah. Lebih banyak mengeluarkan kosakata baru dan baku. Mungkin karena terbiasa diajak bicara dengan nyaring dengan memakai kosakata baru dan baku juga. Pun lebih cepat mengenal huruf.

Pada usia 17 bulan, anak pertamaku, Tyaga, sudah bisa menyanyikan lagu Cicak di Dinding secara utuh satu lagu dengan artikulasi yang jelas meski suara batita. Begitu pula dengan anak keduaku, Jehan, yang bisa menyanyikan lagu Semut Kecil di usia 18 bulan dari bait awal sampai akhir dengan lucunya.

Aku baru tahu istilah ini dengan sebutan read aloud setelah kenal dengan Bubu Dian Nofitasari ketika ada Read Aloud challenge di Febuari 2020. Karena sudah terlihat hasil nyata dari Read aloud (membacakan dengan suara nyaring) ini—maka sampai hari ini, tanggal 10 bulan Agustus 2020, Tyaga yang sudah berusia 8 tahun 4 bulan dan Jehan yang sudah berusia hampir enam tahun—aku tetap membacakan dengan suara nyaring. Aku sangat menyukai momen read aloud ini adalah ketika menatap binar indah mata kedua anakku serta celoteh riang menyambut suaraku membacakan lembar demi lembar buku kesayangan mereka.

Momen membacakan dengan suara nyaring yang diabadikan dalam foto pernah aku ikutkan lomba ajang foto pada Oktober 2018. Dengan tema “Aktivitas Literasi pada Keluarga” yang diadakan sekolah anak pertamaku akhirnya berbuah hadiah yang membanggakan. Bahkan fotoku bersama kedua anakku merupakan satu-satunya peserta dari kalangan wali murid.

Bonusnya mendapat piagam penghargaan dan uang pembinaan seperti ini,

Semua itu aku lakukan sebagai ikhtiar memberikan pengalaman literasi yang menyenangkan bagi kedua anakku. Jangan sampai seperti aku dulu yang tidak suka buku. Memang dibutuhkan pengenalan literasi salah satunya melalui membacakan buku dengan suara nyaring demi menumbuhkan kemampuan dan keterampilan untuk membaca, menulis, berbicara, berhuitung, juga memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Ada sejumlah manfaat membaca nyaring bagi anak, berikut diantaranya:

1. Membangun motivasi, rasa ingin tahu dan ingatan.

2. Mengurangi stres pada anak

3. Membawa anak berimajinasi

4. Membangun kecintaan pada buku

5. Salah satu faktor pendorong anak berhasil dalam akademis

6. Meningkatkan keterampilan berbahasa

7. Membangun kedekatan dengan anak

8. Meningkatkn kreativitas

9. Mendorong kebiasaan membaca hingga dewasa

10. Menunjukkan membaca kegiatan menyenangkan.

(https://www.google.co.id/amp/s/m.republika.co.id/amp/qbbooq423).

***

Sokaraja, 21 November 2020
-Ribka ImaRi-
❤️Penulis 28 buku Antologi (Selama Januari 2019-Juli 2020 sebanyak 16 antologi sudah terbit dan 11 antologi menulis di Rumedia)
❤️Depresi & Bipolar Survivor (2015-2018)
❤️Owner usaha cemilan ImaRi’s Corner (2017-2019)
❤️Mentor Kelas Seni Mengasuh Anak (SMA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA/2018-2019)
❤️Mentor Kelas Mengasuh Inner Child (MIC/2019-2020)
❤️Mentor Kelas The Power of Sounding (TPS/2020)
❤️Mentor Kelas Healing Anak oleh Ibu (HAI/2020)
❤️Founder support grup wa ImaRi’s Corner Parenting (2020)
❤️Owner website binaan Rumah Media: ImaRi’s Corner Parenting (April 2020)
❤️imariscornerparenting/ribkaimari

0Shares

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan